Kenapa Perut Kram saat Haid? Ini 5 Penyebab dan Cara Mengatasinya
Ketika datang bulan, banyak wanita mengeluhkan sakit dan kram perut. Menurut studi, ternyata keluhan ini sangat umum terjadi, dengan tingkat prevalensi globalnya berkisar antara 45% hingga 95% dan total 91.3% di Indonesia.[1] Sayangnya, masih banyak yang belum tahu kenapa perut kram saat haid.
Jika Anda termasuk salah satunya, pelajari penyebab kram perut saat haid hari pertama dan pada masa PMS beberapa hari sebelumnya, serta cara mengatasinya.
Kenapa Perut Kram saat Haid dan Apakah Normal?

Haid, yang dikenal juga dengan nama menstruasi atau datang bulan, adalah momen ketika lapisan rahim Anda mengalami peluruhan. Darah dan sebagian jaringan dari dalam rahim akan mengalir ke serviks dan keluar melalui vagina. Ini adalah bagian dari siklus menstruasi dan para umumnya terjadi setiap bulan.[2]
Karena ada bagian tubuh yang rontok dan mengeluarkan darah, mayoritas dari Anda pasti akan merasakan nyeri. Pada bahasa medis, kondisi ini dikenal sebagai dismenore. Rasa sakitnya bervariasi, ada yang hanya merasakan gangguan kecil dan ada yang tidak bisa beraktivitas normal karena kram dan nyeri.
Lalu kira-kira, apakah perut kram saat haid normal? Jika kram tersebut ringan, maka itu adalah hal yang normal dan tidak perlu Anda khawatirkan. Biasanya ini terjadi karena otot rahim Anda akan sering berkontraksi. Tujuannya yaitu untuk membantu merontokan lapisannya dan mengeluarkannya.
Untuk memicu kontraksi rahim, tubuh Anda akan memproduksi lebih banyak hormon prostaglandin. Hormon inilah yang bertanggung jawab atas dismenore. Apabila kadar hormon ini di dalam tubuh terus naik, maka intensitas kram secara otomatis akan semakin parah dan intens.
Pada umumnya, letak kram perut saat haid ada di bagian perut bawah, tepat di antara perut dan tulang vagina. Tapi terkadang rasa sakitnya menjalar ke punggung dan anggota tubuh lainnya.
Apakah Kram Perut Berbahaya?

Setelah tahu bahwa kasusnya normal, kini saatnya untuk mengetahui apakah kram perut saat haid berbahaya atau tidak. Jika rasa sakitnya ringan dan bisa ditahan, maka tidak ada masalah besar. Pada umumnya rasa sakit tersebut hanya muncul karena eksistensi hormon prostaglandin saja.
Namun jika rasa sakitnya parah, bisa jadi Anda mengalami:
1. Endometriosis
Normalnya, lapisan rahim tumbuh di dalam rahim. Tapi pada beberapa kasus, jaringan tersebut malah tumbuh di tempat yang tidak seharusnya, seperti ovarium, pelapis panggul, atau tuba falopi.
Karena jaringannya tumbuh di tempat “asing”, endometriosis tidak ikut meninggalkan tubuh saat lapisan rahim luruh dan membuat intensitas kram semakin parah.
2. Fibroid Rahim
Selain kram, biasanya Anda juga mengalami nyeri punggung. Ketika melihat volume darah, jumlahnya pun lebih banyak daripada biasanya. Pemicunya adalah eksistensi sel non-kanker di dinding rahim. Pada beberapa kasus, Anda juga mungkin merasakan sakit ketika buang air kecil dan melakukan hubungan seksual.
3. Adenomyosis
Ketika ukuran rahim jadi dua atau tiga kali lebih besar akibat tumbuhnya jaringan di dinding otot. Selain kram, biasanya jumlah darah yang keluar juga lebih banyak. Bisa Anda atasi dengan obat atau operasi.
4. Radang Panggul
Infeksi bakteri akibat penyakit menular seksual. Pada umumnya, Anda tidak sadar ketika terinfeksi oleh bakteri ini. Tapi saat siklus menstruasi tiba, biasanya Anda akan merasakan kram perut dan nyeri punggung kronis.
5. Stenosis Serviks
Saluran yang terlalu sempit bisa membuat aliran darah yang keluar jadi tersumbat dan tidak lancar. Hasilnya, intensitas rasa sakitnya akan terasa lebih parah daripada biasanya.
Pada beberapa kasus, kram karena masalah-masalah di atas tidak berbahaya. Namun, pada beberapa kasus lain, ada yang bisa menimbulkan komplikasi. Contohnya endometriosis yang bisa memicu masalah kesuburan dan penyakit radang panggul yang bisa melukai tuba falopi.
Kapan Harus ke Dokter?

Dismenore adalah masalah ginekologi yang paling umum di kalangan wanita. Sekitar 50-90% populasi wanita mencari perawatan ginekologis ketika mengalami masalah ini.[3]
Anda pun bisa melakukannya jika menemukan ciri-ciri kram perut saat haid yang tidak umum, seperti:
-
Rasa sakit dan kram sangat intens hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
-
Gejala semakin memburuk setiap bulan.
-
Baru mengalami kram parah setelah usia 25 tahun, padahal sebelumnya terasa normal dan tidak mengganggu aktivitas.
Cara Mengatasi Kram Perut saat Haid

Jika terlalu intens, apa yang harus dilakukan saat kram perut saat haid selain datang ke dokter? Untuk membuat Anda lebih baik, coba beberapa tips berikut ini!
-
Kompres air hangat: Anda dapat menggunakan botol, hot packs, kompresan handuk, atau cara lain. Beberapa wanita juga mengaku merasa baikan setelah minum air hangat.[4]
-
Olahraga: Saat olahraga tubuh memproduksi beta-endorfin, yang membantu membakar prostaglandin.[5]
-
Konsumsi obat khusus: redakan dengan obat analgesik atau pereda nyeri. Jika ingin lebih aman, gunakan alternatif herbal.
Contohnya seperti Sido Muncul Kunyit Asam Lancar Datang Bulan yang mengandung kunyit, asam, guarana, delima, kencur, dan jahe.
Kandungannya memuat bahan aktif kurkumin yang bisa meredakan kram, sakit, dan gejala dismenore lainnya.[6] Jadi, mengingat kenapa perut kram saat haid, Anda bisa mengonsumsi 1-2 botol per hari dari 3 hari sebelum menstruasi hingga selesai. Temukan produknya di Sido Muncul Store atau e-commerce dan beli sekarang juga!
Share this post
Related Posts
11 Solusi Aman untuk Melancarkan Haid tanpa Efek Samping
Fakta-fakta Penting Menstruasi (Haid) yang Harus Anda Ketahui
15 Cara agar Cepat Haid untuk Menstruasi Kembali Teratur
Gejala Pra-Haid: 15 Tanda-Tanda Haid yang Tak Boleh Diabaikan
15 Cara Meredakan Nyeri Haid: Panduan Lengkap untuk Wanita
Komentar
Topics
- Daya Tahan Tubuh
- Mata
- Stamina
- Vitamin
- Radikal Bebas
- Antioksidan
- Susu Jahe
- Jahe
- Peredaran Darah
- Khusus Dewasa
- Asam Urat
- Batuk Pilek
- Flu
- Anak Anak
- Kunyit Asam
- Bilberry
- Empon Empon
- Maag
- Diet
- Autoimun
- Kolesterol
- Masuk Angin
- Asam Lambung
- Sariawan
- Keputihan
- Jerawat
- Pegal dan Linu
- Panas Dalam
- Darah Tinggi
- Haid
- Kanker
- Insomnia
- Demam Berdarah
- Ibu Menyusui
- Hormon Testosteron
- Disfungsi Ereksi
- Disfungsi Seksual
- Hormon Wanita
- Sakit Perut
- Perut Kembung
- Olahraga
- Ambeien
- Wasir
- Kesehatan Pria
- Nafsu Makan
- Gangguan Lambung
- Kesehatan
- Liver
- Hati
- Hepatitis
- Batuk
- Badan Lemas
- Kesehatan Tulang
- Kesehatan Kulit
- Otak
- Jantung
- Otot
- Promil
- PMS
- Reward Point
- Lemak
- Gula Darah
- Kulit Gatal
- Sakit Pinggang
- Berat Badan
- Kesehatan Pencernaan
- Encok
- Sakit Sendi
- Ibu Hamil
- Bayi
- Bersalin
- Menghangatkan Badan
- Mual
- Tenggorokan
- Pernafasan
- Buang Air Kecil
- Keringat Dingin
- Sakit Kepala
- Demam Salesma
- Badan Meriang
- Buang Air Besar
- Stress
- Gelisah
- Kesehatan Wanita
- Diabetes
- Vertigo
- Kencing Manis
- Demam
- Muntah
- Metabolisme
- PCOS
- Bau Badan
- DOMS
- Sendawa
- Collagen

Masuk